Kamis, 17 Januari 2013

Menetukan Sampel


     
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi.dalam penelitian keperwatan, criteria sempel meliputi criteria inklusi dan criteria eksklusi,dimana criteria tersebut menentukan dapat tidaknya sampel tersebut digunakan.
Criteria inklusi merupakan criteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syrat sebagai sampel.pertimbangan ilmiah harus menjadi pedoman dalam menentukan criteria inklusi (nursalam, 2003).
Criteria eksklusi merupakan criteria dimana subjek penelitian tidak dapat mewakili sempel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian yang penyebabnya antara lain adalah :
a.       Adanya hambatan etik
b.      Menolak menjadi responden
c.       Terdapat keaadaan yang tidak memumngkinkan untuk dilakukan penelitian.
d.      Terdapat keadaan atau penyakit yang mengganggu pengukuran maupun interprestasi hasil penelitian.
Penetapan criteria sempel (inklusi dan eksklusi) diperlukan dalam upaya untuk mengendalikan variable penelitian yang tidak diteliti, tetapi memiliki pengaruh terhadap variable independent. dengan keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga, maka tidak mungkin peneliti meneliti keseluruhan individu atau objek dalam populasi, untuk itu maka dilakukan pengambilan sampel. sampel didefinisikan sebagai bagian dari populasi yang diambil untuk diketahui karakteristiknya. untuk tujuan generalisasi atau penarikan kesimpulan mengenai populasi,maka sempel yang diambil harus dapat mewakili (representatip) populasi.suatu sempel dikatakan representatip apabila memenuhi criteria : digunakan asas probabilitas (random sampling), besar sempel cukup,ciri – cirri populasi terwakili,dan variasi antar unit populasi dibuat sekecil mungkin.
Berikut ini adalah hal hal yang harus dipertimbangkan ketika peneliti akan menentukan sempel penelitian :
1.      probabilitas
asas ini mengandung arti bahwa setiap estimasi dan keputusan yang dihasilkan dapat melalui pengujian statistic berdasrkan data sempel,selalu mengandung resiko salah atau ketidakpastian.besar resiko salah atau ketidak pastian dari hasil pengujian statistic dinyatakan secara probabilitas.
2.      Standar eror
Secara teoritis apabila ditarik sempel dengan besar tertentu dari populasinya,maka akan didapatkan banyak kemungkina sempel. masing – masing sempel akan mempunyai perhitungan yang saling berbeda besarnya.bila perhitungan yang berbeda besarnya mendekati atau sama dengan para meter.simpangan baku (standar deviation) dan distribusi kemungkinan statistic yang diperoleh dari masing masing sempel disebut sebagai standar eror (kesalahan baku)
3.      Ditribusi teoritis
Dalam penentuan besar sempel,secara teoritis diperoleh banyak kemungkinan sempel yang masing masing mempunyai perhitungan berbeda.perhitunganya dua nilai rata rata, perbedaan dua porposi, atau nilai nilai statistic yang lain. Statistik yang bervariasi dari sempel kesempel,secara teoritis akan membentuk suatu distribusi yang dikenal dengan distribusi teoritis.
Distribusi normal,namun distribusi teoritis mungkin saja normal.distribusi teoritis semakin mendekati normal dengan semakin banyak sempel.distribusi normal merupakan distribusi yang penting dalam analis statistic inferesial.pengujian statistic yang didasarkan atas distribusi normal disebut juga analisis statistic parametric.
Dalam menentukan besar sempel,terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah : jenis dan rancangan penelitian, tujuan penelitian,jumlah populasi atau sempel, teknik sampling, jenis ( skala pengukuran ) data ( variable dependen ) tingkat kepercayaan atau ketelitian penyimpangan yang masih dapat ditoleransi.
Desaign penelitian yang dipilih dalam penelitian akan menentukan perlu tidaknya penggunaan metode sampling.hal ini berkaitan dengan perlu tidaknya digunakan perumus untuk menentukan besar sempel.

KOMUNIKASI PADA BAYI


Bayi tidak mampu mengunakan kata-kata, bayi terutama menggunakan dan memhami komunikasi nonverbal. Bayi mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaannya melalui perilaku nonverbal dan vokalisasi yang dapat diinterpretasikan oleh individu yang berada di sekitar mereka dalam waktu yang cukup lama. Bayi tersenyum dan berguma ketika merasa kenyang dan menangis ketika mengalami tekanan. Tangisan dicetuskan oleh stimulus yang tidak menyenangkan dari dalam atau luar, seperti lapar, nyeri, pengekangan tubuh, atau kesepian. Orang dewasa menginterprestasikan bahwa bayi tersebut memerlukan sesuatu dan berusaha menghilangkan rasa tidak nyaman serta menggurangi rasa tidak ketegangan. Menangis (atau keinginan untuk menangis) tetap menjadi perangkat dari komunikasi pada setiap orang.

Bayi berespon terhadap prilaku nonverbal orang dewasa. Mereka menjadi diam ketika dipeluk, ditepuk atau menerima segala bentuk kontak fisik lembut. Mereka mendapatkan kenyamanan dari bunyi suara, walaupun mereka tidak mengerti kata-kata yang diucapkan. Sampai bayi mencapai usia yang dapat mengalami kecemasan terhadap orang asing, mereka berespon dengan cepat terhadap setiap gendongan yang lembut dan erat, dan kata-kata yang tenang serta penuh kedamaian. Suara keras serta kasar serta pengerakan tiba-tiba akan menangkutkan bayi.

Perhatian yang lebih tua berpusat pada diri mereka sendiri dan orang tuanya; oleh karena itu, orang asing merupakan ancaman yang pontesial kecuali jika terbukti sebaliknya. Mengulurkan tangan dan memanggil anak jarang bersahil, terutama jika bayi sedang bersama orang tuanya. Apabial bayi harus digendong, angkat saja dia dengan cepat dan mantap tanpa banyak gerakan tubuh. Observasi posisi orang tua ketika menggendong bayi. Sebagian bayi tahu posisi dan cara menggendong tertentu yang mereka sukai. Secara umum, bayi lebih sengang dengan posisi tegak dari pada horizontal. Dengan menggendong bayi, ia dapat melihat orang tuanya. Sampai mereka mengembangkan pemahaman bahwa suatu objek (dalam hal ini orang tuanya) yang bergerak dari lapang pandang masih tetap ada, mereka tidak memiliki cara untuk mengetahui objek tersebut masih ada disana.

Skala Bayley


Skala Perkembangan Bayi Bayley (Bayley Scales of Infant Development), yang dikembangkan oleh Nancy Bayley (1969), digunakan secara luas dalam pengukuran perkembangan bayi. Versi terbaru memiliki tiga komponen: skala mental, skala motorik, dan profil perilaku bayi. Versi awal skala Bayley ini hanya meliput tahun pertama perkembangan; pada tahun 1950-an, skala ini diperluas untuk mengukur bayi-bayi yang lebih tua. Pada tahun 1993, skala Bayley II dipublikasikan dengan diperbaharuinya norma-norma pengukuran diagnostik (norms for diagnostic assessment) pada usia yang lebih muda. Karena diskusi kita berpusat pada perkembangan kognitif bayi, minat utama kita ialah pada skala mental Bayley, yang meliputi pengukuran sebagai berikut:
·         Perhatian pendengaran dan penglihatan terhadap rangsangan yang diberikan
·         Manipulasi, seperti mengkombinasikan benda-benda atau menggoyang-goyangkan suatu mainan yang dapat menghasilkan bunyi
·         Interaksi dengan penguji, seperti ketika bayi mulai mengoceh dan menirukan mimik wajah
·         Interaksi dengan mainan, seperti memukul-mukulkan sendok bersama-sama
·         Memori yang digunakan atas keberadaan sebuah benda, seperti ketika bayi menemukan suatu mainan yang disembunyikan
·         Perilaku yang diarahkan kepada tujuan yang melibatkan ketekunan, seperti menempatkan pasak di atas suatu bidang
·         Kemampuan mengikuti perintah dan pengetahuan tentang nama dan jumlah benda-benda, seperti memahami konsep bilangan “satu”
Tes yang tersusun dengan amat baik untuk tingkat usia paling dini adalah skala Bayley untuk perkembangan bayi. Skala-skala Bayley-II memberikan tiga alat komplementer untuk menilai status perkembangan anak di antara umur 1 bulan dan 31/2 tahun:
1)      Mental Scale
Skala mental mengambil sampel, misalnya ketajaman sensorik dan perseptual, memori, proses belajar, pemecahan masalah, vokalisasi, permulaan komunikasi verbal, dan pemikiran abstrak yang mendasar.
2)      Motor Scale
Skala motor melakukan pengukuran kemampuan motorik yang besar, misalnya duduk, berdiri, berjalan dan menaiki tangga, seperti halnya juga keterampilan manipulasi tangan dan jari; soal-soal yang menilai integrasi sensorik dan perseptual-motorik juga termasuk dalam skala motor ini.
3)      Behavior Rating Scale
Skala peringkat perilaku dirancang untuk menaksir berbagai aspek perkembangan kepribadian, seperti perilaku emosional dan sosial, rentang dan pembangkitan perhatian, ketekunan dan keterarahan pada sasaran. Bayley mengamati bahwa skala-skalanya, seperti semua tes bayi, seharusnya digunakan, terutama untuk menaksir status perkembangan dewasa inidaripada untuk memprediksi tingkat-tingkat kemampuan selajutnya. Perkembangan kemapuan pada usia dini ini rentan terhadap begitu banyak pengaruh yang mengganggu sehingga memberikan prediksi yang bernilai kecil. Aylward (1995) telah mempersiapkan Bayley Infant Neurodevelopmental Screener (BINS), pengukuran yang dirancang untuk dengan cepat menilai anak-anak dari 3 samapi 24 bulan dengan cepat, dengan menggunakan kombinasi antara 11 dan 13 soal dri Bayley-II dan tes-tes neurologis lain.

DENVER DEVELOPMENT SCREENING TEST


 Denver Development Screening Test (DDST)
a.       Pengertian
Denver scale” adalah test screening untuk masalah kognitif dan perilaku pada anak pra sekolah. Test ini dikembangkan wlliam K. Frankenburg (yang mengenalkan pertama kali) dan J.B.Doods pada tahun 1967. DDST dipublikasikan oleh Denver Developmental Material, Inc., di Denver, Colorado. DDST merefleksikan persentase kelompok anak usia tertentu yang dapat menampilkan tugas perkembangan tertentu.
b.      Manfaat
1.      Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya
2.      Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat
3.      Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukan gejala kemungkinan adanya kelainan perkembangan
4.      Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan
5.      Memantau anak yang beresiko mengalami kelainan perkembangan.
c.       Alat yang digunakan
-  Alat peraga :
benang wol merah, kismis/ manik-manik, Peralatan makan, peralatan gosok gigi, kartu/ permainan ular tangga, pakaian, buku gambar/ kertas, pensil, kubus warna merah-kuning-hijau-biru, kertas warna (tergantung usia kronologis anak saat diperiksa).
- Lembar formulir DDST II
Buku petunjuk sebagai referensi yang menjelaskan cara-cara melakukan tes dan cara penilaiannya.
d.      Prosedur DDST terdiri dari 2 tahap, yaitu:
1.      Tahap pertama: secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia :
·         3-6 bulan
·         9-12 bulan
·         18-24 bulan
·         3 tahun
·         4 tahun
·         5 tahun
2.      Tahap kedua: dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan pada tahap pertama. Kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
e.        Pelaksanaan test
Penting untuk anak :
§  Dibutuhkan kerjasama yang aktif dan anak sehingga anak harus merasa aman dan senang
§  Anak tidak sedang sakit
§  Anak tidak ngantuk, lapar,huas, sedang marah, rewel
§  Ruangan cukup luas, cukup ventilasi dan kesan menyenangkan bagi anak
§  Ajak anak bermain Penting untuk orang tua
§  Diberitahu bahwa ini bukan test IQ
Beritahu tujuan test
Beritahu orang tua bahwa pemeriksaan tidak mengharapkan anak dapat melakukan semua tugas yang diberikan kepada anak Penting untuk pelaksana test.
f.       Item-item test sebaiknya disajikan secara fleksibel. Akan tetapi lebih dianjurkan mengukuti petunjuk berikut :
Item yang kurang memerlukan keaktifan anak sebaiknya didahulukan, misalnya sektor personal-sosial, baru kemudian dilanjutkan dengan sektor motorik halus-adaptif
·         Item yang lebih mudah didahulukan. Berikan pujian pada anak jika ia dapat menyelesaikan tugas dengan baik, juga saat ini mampu menyelesaikan tetapi kurang tepat. Ini ditunjukan agar anak tidak segan untuk menjalani test berikutnya
·         Item dengan alat yang sama sebaiknya dilakukan secara berurutan agar penggunaan watu agar lebih efesien.
·         Hanya alat-alat yang akan digunakan saja yang diletakan diatas meja
·         Pelaksanaan test untuk semua sector dimulai dari item yang terletak di sebelah kiri garis umur, lalu dilanjutkan ke item di sebelah kanan garis umur
Jumlah item yang dinilai tergantung pada lama waktu tersedia, yang terpenting pelaksanaanya mengacu pada tujuan test, yaitu mengidentifikasi perkembangan anak dan menentukan kemampuan anak yang relatif lebih tinggi
3. Cara pengukuran :
a.    Tentukan umur anak pada saat pemeriksaan
b.   Tarik garik pada lembar DDST II sesuai dengan umur yang telah ditentukan
c.    Lakukan pengukuran pada anak tiap komponen dengan batasan garis yang ada milai dari motorik kasar, bahasa, motorik halus, dan personal social
d.   Tentukan hasil penilaian apakah normal, meragukan dan abnormal
e.    Tetapkan umur kronologis anak, tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa. Gunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk satu tahun.
f.    Jika dalam perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah, jika sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
g.   Tarik garis berdasarkan umur kronologis yang memotong garis horisontal tugas perkembangan pada formulir DDST.
h.   Setelah itu dihitung pada masing-masing sektor, berapa yang P dan berapa yang F.
i.     Berdasarkan pedoman, hasil tes diklasifikasikan dalam: Normal, Abnormal, Meragukan dan tidak dapat dites.
• Abnormal
Ø     Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan, pada 2 sektor atau lebih.
Ø     Bila dalam 1 sektor atau lebih didapatkan 2 atau lebih keterlambatan Plus 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tersebut tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia
Ø     Meragukan Bila pada 1 sektor didapatkan 2 keterlambatan atau lebih
Ø     Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada kotak yang berpotongan dengan garis vertikal usia.
• Tidak dapat dites
Apabila terjadi penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
• Normal
Semua yang tidak tercantum dalam kriteria di atas.

KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN BAYI


Masa bayi berlangsung satu tahun pertama setelah periode bayi yang baru lahir dua minggu. Meskipun masa bayi sering dianggap sebagai masa bayi baru lahir, tetapi label masa bayi akan digunakan untuk membedakannya dengan periode pascanatal yang ditandai dengan keadaan sangat  tidak berdaya.
      Masa bayi dimulai sejak berakhirnya masa orok sampai akhir tahun kedua dari kehidupan. Masa bayi ini memilikiciri-ciri perkembangan fisik, inteligensi, emosi, bahasa, bermain, pengertian, kepribadian, moral, dan kesadaran beragama. Uraian lebih lanjut sebagai beriku :
a)Perkembangan Inteligensi
            Sejak tahun pertama dari usia anak, fungsi inteligensi sudah mulai tampak dalam tingkah lakunya, misalnya dalam tingkah laku motorik dan berbicara. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancar, serasi, dan koordinasi. Sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Anak yang cerdas cepat pula perkembangan bahasanya.
            Perkembangan kemampuan motorik (berjalan) pada anak yang cerdas dimulai pada usia 12 bulan, anak yang sedang pada usia 15 bulan, yang moron 22 bulan, dan yang idiot 30 bulan. Dalam perkembangan bahasa (berbicara), anak yang cerdas mulai berbicara pada usia 16 bulan, moron 34 bulan, dan idiot 51 bulan.

b)      Perkembangan Emosi
a.       Usia ,0-8 minggu
b.      Kehidupan bayi sangat dikuasai oleh emosi (impulsif). Emosi anak sangat bertalian dengan perasaan indrawi (fisik), dengan kualitas perasaan senang dan tidak senang jasmaniah.
c.       Usia 8 minggu-1 tahun
Pada usia ini perasaan psikis sudah mulai berkembang. Anak merasa senang (tersenyum) apabila melihat mainan yang digantungkan di depan matanya, atau melihat orang yang telah dikenalnya. Tidak merasa senang (menangis) terhadap benda, situasi, atau orang asing (menangis apabila dipangku oleh orang yang tidak dikenalnya). Pada fase ini perasaan anak mengalami diferensiasi (penguraian), yaitu dari perasaan senang dan tidak senang jasmaniah menjadi perasaan-perasaan senang, tidak senang, marah, jengkel, terkejut, dan takut.
c)      Perkembangan Bahasa
Ada tiga bentuk pra bahasa yang normal muncul dalam pola perkembangan bahasa, yakni menangis, mengoceh, dan isyarat. Menangis adalah lebih penting karena merupakan dasar bagi perkembangan bahasa yang sebenarnya. Isyarat dipakai bayi sebagai pengganti bahasa, sedangkan pada anak yang lebih tua atau orang dewasa, isyarat dipakai sebagai pelengkap bahasa. Karena bahasa dipelajari melalui proses meniru maka bayi perlu memperoleh model atau contoh yang baik suoaya dapat meniru kata-kata yang baik.
Mengenai pentahapan perkembangan ini, William Stern dan Clara Stern (Abu Ahmadi, 1977) dalam Die Kindersprach (bahasa kanak-kanak) mengemukakan sebagai berikut.
a.       Masa permulaaan, stadium purwoko (6-12 bulan). Masa ini disebut masa meraban, yaitu masa mengeluarkan bermacam-macam suara yang tidak berarti. Masa ini sebagai permainan pelatihan alat-alat suara kerongkongan, mulut, dan bibir. Pada masa ini anak sering mengulang beberapa suku kata, seperti ba-ba-ba, ma-ma-ma, dan pa-pa-pa.
b.      Masa pertama, stadium kalimat satu kata (12-16 bulan). Pada masa ini anak sudah bisa mengucapkan kata, misalnya mama, papa, dan mamam. Sepatah kata ini sudah merupakan kalimat, tetapi kalimat tidak lengkap.
c.       Masa kedua, stadium nama (16-24 bulan). Pada masa ini anak sudah mulai timbul kesadaran bahwa setiap orang atau benda mempunyai nama, sehingga disebut Stadium nama. Disamping nama benda dan orang, juga nama-nama perbuatan yang disaksikan.
d)     Perkembangan Bermain
Pada masa anak mencapai usia 3 bulan, penguasaan tangannya telah sedemikian berkembang sehingga memungkinkan dia dapat bermain dengan boneka, atau yang lainnya. Pada masa ini juga, anak merasakan kegembiraannya atau kesenangannya dengan membalikkan badannya dari satu sisi ke sisi lainnya, menendang-nendang, dan memperhatikan gerakan-gerakan tangannya. Pada usia tahun kedua, permainannya sudah mulai teratur dan boneka dipakai untuk berbagai macam kegiatan permainan. Ciri khas pada masa ini adalah permainannya banyak melibatkan kegiatan-kegiatanberjalan, melemparkan dan memungut kembali benda-benda, dan memasukkan atau mengeluarkan benda-benda dari tempatnya.
e)      Perkembangan Pengertian
Bayi memulai hidupnya dengan tidak mempunyai pengertian tentang apa yang ada di lingkungannya. Dia memperoleh pengertian tentang apa yang diamatinya melalui kematangan dan belajar. Pada awal tahun pertama, tingkah laku bayi menunjukkan bahwa ia menafsirkan hal-hal yang baru berdasarkan yang lama. Setelah mencapai usia dua tahun, ia telah mampu membuat kesimpulan sederhana berdasarkan pengalaman-pengalaman serupa yang dilihat ada hubungannya. Pengertian pertama bagi bayi tentang objek diperoleh melalui penjelasan sensorinya (pengindraannya) melihat, meraba, mencium, dan mengecap.
f)       Perkembangan Kepribadian
Pada masa ini masih berkembang sikap egosentris (aku di pusat). Ini berarti bahwa anak memandang segala sesuatu dilihat dari sudut pandang sendiri, dan ditujukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak menghiraukan kepentingan orang lain. Dia adalah raja atau ratu kecil yang hanya memerintah dunia sekitarnya.
Sikap egosentris ini mempengaruhi sikap sosialnya, seperti semua orang harus melayani dirinya, semua orang harus tunduk pada kehendaknya, dan segala sesuatu yang dikehendakinya harus ada dan harus dipenuhinya.
Sikap-sikap yang tanpaknya tidak baik ini merupakan keadaan yang normal atau wajar bagi perkembangan usia bayi karena masa ini masih sangat dikuasai nalurinya (bersifat impulsif), dan kemampuan berpikirnya belum ckup berkembang. 
g)      Perkembangan Moral
Seorang anak yang dilahirkan belum memiliki pengertian tentang apa yang baik atau tidak baik. Pada masa ini tingkah laku anak hampir semuanya didominasi oleh dorongan naluriah belaka. Oleh karena itu, tingkah laku anak belum bisa dinilai sebagai tingkah laku bermoral atau tidak bermoral. Pada masa ini, anak cenderung suka mengulangi perbuatan yang menyenangkan, dan tidak mengulangi perbuatan yang menyakitkan.
h)      Perkembangan Kesadaran Beragama
Anak pada usia ini sudah mempunyai perasaan ketuhanan. Perasaan ini sangat memegang peranan penting dalam diri pribadi anak. Perasaan ketuhanan pada masa ini merupakan fundamen bagi pengembangan perasaan ketuhanan periode selanjutnya. Seiring dengan perkembangan kognisi, emosi dan bahasa anak maka untuk membantu perkembangan kesadaran beragamanya.(Menurut Arnold Gessel)
i)        Perkembangan Mental Pada Bayi
    Perkembangan mental yang baik bagi seorang bayi, sangatlah bergantung terhadap kondisi kesehatan dan gizi yang baik terhadap ibu di masa kehamilan sebelumnya, dan pada masa bayi, berikut pada masa anak pra sekolah selanjutnya. Di satu sisi peran serta orang tua dan lingkungan dalam menciptakan stimulus yang cukup, baik kualitas dan kuantitas juga merupakan hal penting yang tidak jarang disepelekan begitu saja. Tak heranlah, orang tua dalam kelompok ini di lapangan masih ditemukan adanya suatu gangguan perkembangan pada anaknya (balita).

REFLEK-REFLEK PADA BAYI





Refleks primitif bayi
Anak yang baru lahir mempunyai sejumlah refleks. Mereka merupakan dasar bagi bayi dalam koordinasi fisik mengadakan reaksi serta tindakan yang aktif. Beberapa dari reflek-reflek ini akan menghilang dalam waktu dalam waktu tertentu, reflek inilah yang disebut reflek primitif bayi / reflek anak menusu. Reflek primitif bersifat fisiologi / alami yang muncul secara otomatis dan akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia anak, karena bersifat sementara reflek ini juga biasa di sebut refleks sementara.Berikut berbagai macam Refleks
1)      Refleks Moro
Timbul oleh rangsang yang mendadak / mengejutkan. Bayi akan mengembangkan tanganya ke samping dan melebarkan jari-jarinya kemudian menarik tangannya kembali dengan cepat seperti ingin memeluk seseorang.Muncul sejak lahir, akan mereda 1 atau 2 minggu dan minghilang setelah 6 bulan. Biasanya refleks ini diikuti dengan tangisan bayi. Jika refleks ini timbul, menunjukkan terjadinya ketidak matangan otak dan retardasi mental
2)      Refleks Babinski
Tampak dengan mengusap / menekan bagian menonjol dari dasar jari di telapak kaki bayi keatas dan jari-jari membuka.
Dapat berlanjut hingga 8 bulan, dan menghilang setelah 9-12 bulan
3)      Refleks Menciun ( Rooting refleks )
Kepala bayi akan berpaling memutar ke arah usapan dan mencari puting susu dengan bibirnya, Refleks ini untuk mencari makanan.
Reflek ini berlanjut sementara bayi masih menyusu dan menghilang setelah 3-4 bulan.
4)      Refleks Hisap ( Sacking Refleks )
Ditimbulkan oleh rangasangan pada daerah mulut atau pipi bayi dengan puting / tangan. Bibir bayi akan maju ke depan dan lidah melingkar ke dalam untuk menyedot.
Paling kuat pada 4 bulan pertama dan memudar setelah 6 bulan dan secara bertahap melebur dengan kegiatan yang disadari
5)      Refleks Genggam ( Palmar Grasp Refleks )
Timbul bila kita mengoreskan jari melalui bagian dalam atau meletakkan jari kita pada telapak tangan bayi. Jari-jari bayi akan melingkar ke dalam seolah memegangi suatu benda dengan kuat.
Biasanya reflek ini menghilang sekitar 4 bulan
6)      Tonick Neck Refleks
Meruapakan refleks mempertahankan posisi leher / kepala. Timbul bila kita membaringkan bayi secara telentang. Kepala bayi secara akan berpaling ke salah satu sisi sementara ia berbaring terlentang. Lengan pada sisi kemana kepalanya beraling akan terlentang terlentang lurus keluar, sedangkan tangan lainnya dilipat / ditekuk.
Refleks ini sangat nyata pada 2 atau 3 bulan dan menghilang sekitar 4 bulan.
7)      Refleks Melangkah ( Stepping Refleks )
Timbul ketika kita memegangi bayi pada posisi berdiri dan sedikit menekan. Bayi akan mengangkat kakinya secara bergantian seakan -akan berjalan.
Refleks ini mulai berkurang setelah 1 minggu dan akan menghilang setelah 2 bulan.